Untuk H: Legenda Manusia Efisien
Kamu pasti akan tertawa kencang sekali kalau tahu jawabanku, saat ditanya temen-teman dekatku: kenapa (misalnya) aku harus menikah? Aku meminjam jawabanmu. Padahal waktu itu aku bergidik, ngeri dengan jawaban itu. Aku mengataimu manusia efisien. Semuanya dengan fungsi-fungsi dan kegunaan. Kamu itu manusia ambisius, gila fungsi, kejam dan tidak punya hati. Seolah-olah manusia hanya seperangkat alat yang akan membereskan sesuatu. Jahat sekali kan... Tapi waktu itu aku berpikir akan mencoba menjadi kamu. Memakai jawabanmu. Biar hidup ini lebih konkret dan efisien. Bukankah kamu bilang hidup adalah segenggam strategi? Aku mencoba. Barangkali seperangkat fungsi akan memudahkan hidupku.
Iya, benar sekali yang kamu bilang. Ternyata, aku tidak sekuat itu meletakkan fungsi, lebih tepatnya aku tidak sekejam kamu. (Bukan pembunuh berdarah dingin katamu? Istilah itu legendaris lho!) Bahkan, aku tidak seberani kamu meletakkan fungsi dalam agenda kedekatan.
Dan kamu mengataiku manusia fantasi. Manusia yang tidak pernah riil. Penuh tipu daya dan tidak konkret. Seperti melangkah di awang-awang setiap harinya. Berangkat dari eksperimen demi eksperimen. Kamu emang sangat kejam mengataiku.
Hingga aku membuat kesimpulan, kamu kejam dan aku penuh tipu daya. Ah, kejahatan yang sempurna. Aku seperti berhasil menemukan kutu ditumpukan bantal usang. Seolah olah menemukan satu-satunya hal yang menyamakan.
”Gak ada yang pernah sama, Zah...” katamu dalam kepulan asap kretek Dji Sam Soe yang sebelumnya kamu ketuk-ketuk batangnya di meja.
Tiba-tiba aku menganggap pertengkaran itu manis sekali.
Aku jadi panas dingin kalau perdebatan di warung seafood itu diingat-ingat. Kecuali perjalanan ngebut sampai semua pembicaraan di terbangkan hawa dingin, aku ngerasa hal-hal yang terjadi di sana tidak ingin kuulangi. Supaya jadi satu-satunya.
Aku mulai terbiasa berbeda dan tidak perlu menyamakan diri denganmu. Kamu pikir, aku berjalan di udara. Sedangkan aku kira, kamu telah tenggelam dalam tanah yang kamu gali sendiri. Aku berdiri di atas fantasi dan kamu di atas fungsi. Masing-masing diri kita seperti membicarakan rumput tetangga.
Hingga tiga bulan lalu, telepon itu terputus dalam cerita yang belum kuselesaikan. Intonasimu tidak terlalu kukenali(intonasi yang selalu kutertawakan parole-nya), lebih lambat dari biasanya...Di tempatku, waktu itu, tidak ada sinyal. Aku pun tidak telepon balik. Padahal, aku tidak tahu apa motifmu menelepon pagi hari. Di waktu, yang kamu tahu, aku tidak suka dihubungi.
Kemarin malam, dari Belia, aku mendapat kabar, kamu akan menikah bulan ini. Aku tidak kaget.
O iya, apakah alamat imel yang kamu kasih ke aku itu salah? Imel yang kukirim tertolak. Padahal aku masih punya janji. Nomer hapemu tidak aktif lagi. Iya, aku emang teledor padamu soal janji itu.
Met menikah, manusia efisien! Kamu orang berani. Bukan aku, tapi kamu yang spesial. Lebih banyak orang sepertiku mengendap-endap tertawan di udara daripada sepertimu yang tenggelam di tanah yang digali sendiri. Kamu orang baik. Kamu harus percaya padaku, kalau idealisasi sebagian besar manusia itu emang kejam berkeyakinan sepertimu. Bukan pecundang membingungkan sepertiku.
Kamu orang yang paling efisien sejauh ini.
Tapi aku mau bilang, ada kenyataan lain yang tidak bisa dibereskan dengan fungsi. Emang agak mistik sih.
Met menikah. Met menikah. Semoga selalu diberkati.
Sebentar, biar kutebak: kamu menikah dengan adik seniormu itu kah?