Tragedi yang Sering Terjadi
Kamu tahu apa penyakit(?) paling mengerikan bagiku?
K e s e p i a n.
Kalau Albert Camus memanifestasikan dengan sebuah kisah mitologi yang masyhur: Mite sisifus. Manusia yang dihukum oleh para dewa mendorong batu besar ke puncak gunung, untuk setiap waktu melihat batu tergelincir lagi ke bawah setelah nyampe di puncak ketinggian. Begitu terus yang dilakukan sisifus dalam hidupnya, mendorong batu ke atas dan menggelincirkannya. Melakukan pekerjaan yang berulang-ulang dan tak akan pernah selesai. Kesia-siaan yang abadi. Hukuman yang mengerikan.
Mengasosiasikan sisifus dalam diriku aja, aku jadi sepi. Lengang sekali hidup ini. Mendekonstruksi abis-abisan ambisi yang di doktrin keluarga padaku:Hidup untuk kemaslahatan umat. Berguna bagi orang lain. Dan doktrin heroik lainnya. Akh, tahu tidak, pada akhirnya aku akan menjalani peristiwa biasa. Cengeng dan menjalani tragedi(kesadaran akan kesulitan hidup.)
Aku tidak tahu apakah kesepian itu suatu penyakit(?) yang disebabkan oleh ketiadaan oranglain. Atau sebuah hasrat kemanusiaan yang paling subtil, dengan tidak menghubungkan eksistensi oranglain atas diri. Aku pergi jalan-jalan, nonton film, bikin keisengan, bekerja sampai nongkrong dengan orang lain. Tapi sering merasa kesepian.
Setelah tak inget-inget, sebenarnya perasaan sepi itu udah ada dari dulu-dulu banget dengan tingkat penghayatan macam-macam. Waktu kecil(adikku masih bayi atau malah belum lahir), pulang dari sekolah kalau bapak ibu tidak ada di rumah, kami para anak-anaknya memiliki perangai yang berbeda-beda. Aku akan melempar seragam, tas sesukaku dan segera lari bermain ke rumah tetangga bahkan makan siang di sana. Aku tahu, habis itu, akan dimarahi tapi aku terus melakukannya. Kalau kakak laki-lakiku akan marah-marah dan menjungkirbalikkan semua meja kursi yang ada di ruang tamu. Wah dia nakal sekali waktu kecil(sampai sekarang sih hihihi) beda dengan kakak perempuanku yang segera meletakkan seragam dengan baik dan belajar untuk materi sekolah diniyah. Kakak perempuanku sangat rajin, waktu kecil dia adalah teladan yang digembar-gemborkan orangtua padaku. Mungkin setelah tua kayak gini, aku baru tahu kalau perasaan impulsif itu bernama kesepian. Yah, namanya juga izzah gengsi dong mengakui, iya nih aku lagi kesepian hahahaha(malu,malu)
Beberapa orang akan melarikan diri, pergi sejauh-jauhnya. Escape for the past. Masalalu yang berarti: Moral, ideologi atau tanggungjawab lain.
Ada yang tidak berani atau tidak bisa melarikan diri. Biasanya akan suka sekali bikin dramatika: Membesar-besarkan tragedi, membuat kekacauan dan mengabarkan kebohongan.
Aku cenderung di tipikal pertama.
Menurutmu ada orang di dunia ini yang tidak pernah kesepian?
Sejak kapan begitu penting bagiku memikirkan tragedi kayak gini. Apakah aku semakin tampak tolol dengan mengatakan, iya nih aku kesepian. Oh, gosh... aku mempersiapkan diri mendapat predikat tolol dan cengeng ketika menulis ini.
Setelah menyadari kesulitan hidup dalam sebuah tragedi. Kesadaran yang berarti penyakit akal budi. Akan sangat sarkas jika aku bertanya: apa yang akan kamu lakukan jika kesepian? (soalnya aku masih jaga gengsi hemmm...) Makanya aku mereduksi dengan mengganti pertanyaanku dengan begini: apa yang kamu lakukan jika kamu tidak konsen ngapa-ngapain?
Temanku bilang: Biasanya aku pulang ke rumah orangtua. Pulang Zah...
Aku menyimpan jawaban itu dan mengantonginya hingga sekarang. Barangkali aku mempertimbangkan gagasan pulang yang disarankan Teman.
Comments
Nek kesepian, aku suka sepedaan malam-malam, liat orang2 jalanan. Belajar menumbuhkan empati jadi lebih kuat pada saat2 seperti itu. Hehe, escape for the past itu-kah jadinya?
saat aku melakukan ha-hal yang seru dan baru. hahaha kapan-kapn tak ceritani!