KEHILANGAN IDOLA
Aku suka menanyakan minatku terhadap ilmu. Kok aku ngerasa, saat ini kurang harmonis. Padahal aku telah melewati halang-rintang sebisaku demi bertemu ilmu. Aku kehilangan idola. Berdiri di persimpangan.
Kutipan pertama di awal kuliah, adagium terkenal Francis Bacon: Knowledge is power.
Sebagai siswa baru, waktu itu, aku sangat termotivasi dengan kutipan di atas. Hingga aku mulai tahu kalau hanya pengetahuan tidak akan membuat siapapun bertahan. Kalau aku membaca ensiklopedi, koran dan mencermati berita setiap hari, tidak akan membuatku beranjak meneguhkan kemanusiaanku. Maksudku, manusia yang memiliki refleksi, menghayati keindahan, bertukar pengalaman, merespon realitas, mengajukan pertanyaan njuk ngopo? Mau ngapain dengan realitas itu? Terus menggangguku. Akhirnya, aku mulai tahu ada ilmu pengetahuan dan memahami fungsinya. Juga menerka lebih jauh kekuatan pengetahuan yang diajukan Bacon. Aku bersyukur pada Tuhan atas itu.
Tapi ilmu seringkali jadi begitu kabur di mataku. Apalagi dunia yang kupilih ilmu sosial, disana banyak banget perdebatan yang tidak pernah sanggup dirampungkan. Dimanapun, batasan ilmu seringkali tergantung pada norma-norma (pembenaran) ilmiah.
Ya, apa boleh buat aku seperti tukang judi. Karena percaya dengan norma-norma yang diajukan filsafat ilmu. Konon, yang disebut ilmiah itu yang memiliki dasar pembenaran, aturannya yang sistematik, sekaligus musti inter subjektif.
Memiliki dasar pembenaran, karena terkadang sifat pengetahuan yang apriori(berdasar pada prinsip-prinsip yang diakui benar tanpa melakukan pengamatan). Misalnya, empat kali empat ya enam belas. Kita gak perlu berdebat, soal kapan menghitungnya dan pakai baju apa orang yang menghitung itu. Atau contoh lain kertas akan hangus dibakar api. Dan hal-hal serupa. Pembenaran yang lain adalah realitas empirik. Misalnya, sore matahari tenggelam berwarna kemerahan. Berarti pembenaran yang kedua musti pakai pengamatan. Padahal, pengalaman tentang sore dari tiap garis lingkar dan bujur di bumi berbeda. Bagaimana orang akan memiliki gambaran yang sama tentang tenggelam dan merahnya matahari sore? Empirisisme, kebenaran yang coba diklaim, sejak filsafat ilmu di ajukan. Bukankah tidak ada suatu generalisasi pengalaman yang dapat dibenarkan secara logika?
Hu hu ini lanjutan tuntutan ilmiah, aturannya yang sistematik. Taat pada hubungan pengetahuan satu dan lainnya secara runtut dalam tata cara memperoleh dan mengolah pengetahuan. Walaupun disana juga ada pengetahuan untuk mengkritik sistematika. Tapi, aku menyebut aturan penuh kebohongan! Karena dengan ini manipulasi sering terjadi. Hahaha kelak di sini aku memiliki minat yang sangat besar...metode, metodologi, konsep. Sosiologi, ilmu yang sekarang aku pelajari, memiliki sekumpulan konsep tentang metode. Sedangkan metode, awal mulanya diformulasikan sebagai alat yang ampuh untuk mengetahui pengalaman atau kehidupan manusia. Dengan begitu, adanya alat (metode) berfungsi untuk memenuhi standar tujuan tertentu. Pada akhirnya, metode dipakai untuk kepentingan tertentu juga. Kepentingan yang bermacam-macam sesuai jenis penelitian yang sekiranya memenuhi kriteria efisiensi. Di sana aku sebut manipulasi. Sistematika Ilmu bisa saja memanipulasi kebenaran.
Nah dengan inter subyektif tuh hubungan antara kedua hal diatas dimungkinkan. Pada akhirnya, manusialah yang menyelenggarakan ilmu(pembenaran dan sistematika ilmiah itu). Begini, pembenaran ilmiah mengajukan gagasan dan sistematika ilmiah yang melegalkan. Karena dua-duanya tidak bisa berdiri sendiri kan? Kalau disini, aku menyebut wilayah kekerasan! Karena derajad kecerdasan, kemampuan menggunakan sistematika dan kritik, pengetahuan ruang dan waktu yang dimiliki, diuji habis-habisan. Atau bahkan kemampuan memanipulasi kebenaran dalam sistematika ilmiah. Karena di sini letak penafsiran subjektif tertentu bisa dijamin sistematika ilmiah.
Olala...ingat kasus penelitian jip(Jurusan Ilmu komunikasi) UGM yang dibiayai Asian Agri(perusahaan Tanoto itu lho..)? Penelitian itu meneliti pemberitaan Tempo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tempo tidak kuat presisi beritanya. Nah, Tempo Berang. Usut punya usut, ternyata Tempo pernah memberitakan Asian Agri melanggar beberapa aturan bisnis. Pemilik Asian Agri melawan pemberitaan Tempo dengan penelitian ilmiah yang dilakukan JIP. Dalam sebuah pernyataan, ketua tim penelitian JIP menantang siapapun yang berhasil membuktikan bahwa Tim JIP tidak melakukan standar metodologi yang benar. Itu yang kusebut kekuatan sistematika menjamin pengetahuan jadi ilmiah. Menjadi sebuah laporan penelitian ilmiah. Tim JIP mengklaim kalau penelitian itu ilmiah.
Dan dengan bego aku bertanya kepada salah satu pengajar di jurusan:
”Eh, gimana tuh kasus komunikasi?”
Masih terekam dalam ingatan, dia menjawab:
”ah gak usah dibesar-besarkan. Penelitian mana sih yang gak dibayarin? Bukankah metode telah sesuai dengan standar ilmiah?”
Aku geram sekali. Dan saat itu aku mereparasi kepercayaanku terhadap ilmu (hal-hal ilmiah). Tapi aku tidak mau cengeng, sedikit-sedikit, meminta tolong kepada etika untuk menyelesaikannya.
Ah, Aku seperti orang naif saja. Ternyata isu tentang keruntuhan ilmu telah usang. Usang sekali. Pada penganugeragahan nobel ke 25 tema konferensinya, The end of science. Tapi dari golongan ilmuwan manapun tidak ada yang berani memberi statemen keruntuhan ilmu. Paling pol, kebangkrutan ilmu. Bahwa filsafat dan ilmu pengetahuan tidak bisa dipertahankan. Filsafat ilmu tidak pernah sanggup merengkuh dunia, dalam pengertian paling bijak seperti apapun. Sedangkan ilmu pengetahuan yang selalu baru, tergantung teks dan konteks dan sikapnya yang tidak menentu. Benar-benar tidak bisa dipercaya lagi.
Setelah diperam dalam struktur ilmiah, filsafat ilmu dalam beberapa bangunan yang telah usang. Ditambah kasus JIP. Apakah aku musti melempar ke wilayah etika? Mencari perlindungan etika? Setelah sistematika ilmu tidak bisa menjamin kejujuran.
Aku semakin tidak merasa perlu tergila-gila dengan ilmu seperti sebelumnya. Kemudian aku beralih menghadapkan muka kepada Husserl(1859-1938), pengetahuan ilmiah adalah abstraksi dan idealisasi dari dunia kehidupan, serta penafsiran tentang dunia kehidupan sehari-hari. Pandangan dia disebut fenomenologi. Aku tahu akibatnya, dengan memilih fenomenologi berarti apa yang tampak dari realitas bukanlah realita itu sendiri, tapi realitas yang ditampilkan dari caraku bertanya.
Tidak ada pemikir sejati yang mencari persamaan(Karlina Supelli, 2002). Aku merasakan perkembangan ilmu semakin kesana. Semakin tidak mencari persamaan. Semakin menempatkan pengalaman.
Baiklah, aku merasa hubunganku dengan ilmu telah berubah.
Ilmu bukan lagi idolaku, tapi jadi karib. Kawan dekat yang aku mengerti kelebihan dan kekurangannya.