Bruno, India dan Junior
Aku memiliki tiga kaktus yang kurawat di kamar kos. Namanya, Bruno, India dan junior.
Aduuh, Bruno telah tewas.
Kira-kira medio Desember tahun lalu. Waktu melihat Bruno sekarat, aku sedih sekali. Aku segera memanggil bantuan gawat darurat yang sigap: Hano.
”Hanoo, iki piye kok Bruno jadi letoy? Harusnya kan batangnya menjulang tegak ke langit. Ini kok malah lunglai kayak lelaki patah hati....”
”wah Zah, kamu terlalu banyak kasih air. Liat dia jadi lembek dan bengkak” kata Hano tenang. Seperti biasa, dia berbicara dengan impresif dan meyakinkan. Bak pakar-pakar tanaman.....
”Emang benar deh kayaknya.....”
Alkisah, tentang Bruno. Aku membelinya bareng dengan kaktus Nad tanggal 27 Oktober 2007. Aku sangat bahagia memiliki kaktus. Sepanjang waktu aku memikirkan nama buat kaktus ini. Menurutku dia cakep banget. Cakeep banget! Hmm...ketika aku ngelamun dan ngelihat deretan buku di rak, aku tertumbuk pada novel John Boyne yang kupinjam dari Nad. Wah, aku langsung dapat ide. Kaktusku kunamakan Bruno! Dan terbersit ide untuk menamakan kaktus Nad, shmuel. Padahal aku Cuma nyontek nama tokoh-tokoh di novel itu. Tapi aku sudah merasa brilian dan penting sekali. Ah...
Karena sangat gembira, aku selalu memperkenalkan Bruno pada setiap temanku yang datang ke kos. Bahkan teman-teman kosku tidak ketinggalan jadi korban. Semua kupamerin. Teman-teman ini Bruno, ini Bruno. Ugh, Aku bangga sekali.
Eh, ternyata populernya Bruno dikalangan handai taulan membuat dia begitu terawat dan mendapat perhatian dari banyak pihak. Setiap temanku datang ke kos tidak lupa bertanya tentang Bruno dan memberinya siraman air. Begitu seterusnya, begitu seterusnya...hingga, Bruno tidak kuat lagi menahan air. Sepertinya ia obesitas. Ah, dia terlalu banyak perhatian! Nah, tentu saja analisa Hano tentang Bruno sangat akurat. Bruno sekarat kebanyakan air....kok Bruno nasibnya kayak di novel ya? Aduh tragis tenan...
”Hano, aku minta tolong. Bruno dirawat di rumahmu. Dia sekarat mungkin perlu rehabilitasi....hiks..hiks....” kataku pada Hano.
”Baiklah Zah, serahkan semua padaku!” Dengan percaya diri, pakar botani dadakan ini menanggung semua perawatan Bruno. Hari itu, Hano punya tugas paling gawat dan mendesak!
Aku terus keep in touch dengan hano, terutama menyangkut kemajuan Bruno. Hingga, hari-hari berlalu. Berlalu...
Suatu hari di akhir Desember, datanglah Hano ke kos. Aku sudah tahu naga-naganya ada apa. Walaupun, hano tidak pakai baju hitam dan sembab matanya, aku sudah menduga. Kedatangannya berkabar tentang Bruno. Ya Tuhan, Bruno mati.
Tapi karibku, si ahli Botani Dadakan itu tidak kehilangan akal untuk menghiburku. ”Maaf Zah. Tapi ini kubawakan yang baru dari rumah.” kata Hano sambil menyerahkan kaktus mungil. Beda tipe dengan Bruno. Dia cenderung mekar. Dia tidak begitu sehat, tapi lumayan cantik eh manis ding. Not Bad. Begitulah alkisah awal mula, India. Si India.
India, diilhami dari negara yang kusebut sebagai kakak tua negara. Aku sangat ingin mengunjungi negara itu seperti keinginanku untuk bertemu dua kakakku. Sebenarnya, keinginanku berkunjung sudah sangat usang. Jauh sebelum muncul banyak alasan di bawah ini(gak apalah daripada nanti ditanya apa alasanmu pengen ke India? Aku gak ada alasan, ntar dikira bodho):
India, ada Gandi si keras kepala, mitos barathayuda. Negara miskin tapi progresif. Aku mulai menemukan orang terkenal dan ilmuwan dengan nama-nama India. Perusahaan Bajaj yang masyhur. City Car termurah di dunia, 25 juta. Salah satu peranakannya, Bobby Jindal, berhasil menjadi gubernur negara bagian di USA. Wah bisa-bisa, legendanya mengalahkan peranakan China.
Dan juga Bolywood. Hahaha tuan takur dan pria wanita jatuh cinta diladang-ladang hijau kekuningan. Menari-nari. Saling bertukar pandang dan senyum. Cium tangan, cium sana sini, eh giliran kedua bibir sepasang kekasih saling mendekat yang cewek melengos. Ugh, adegan yang bikin penonton kemud-kemud!
India, yang mistis, defensif dan definitif. Negara yang berkarakter…kakakaka
Nah begitulah. India selalu kukunjungi tiap malam. Tiap hari. Si India yang manis kukunjungi kapanpun sesukaku.
Di hari yang lain, Hano membawakan kaktus yang lain. Saya kira kaktus itu se tipe dengan Bruno, ternyata tidak. Namun, terlanjur kunamakan Junior. Kepanjangannya Bruno Junior. Aku masih nekad membawa nama Bruno ke nama kaktusku yang lain.
Junior sangat sehat dan muncul anaknya. Menjulang ke atas....
Hampir sebulan ini aku agak gawat jadwal tidurnya. Aku mulai tidur paling cepat habis subuh atau pagi-pagi. Bangun jam setengah dua belas siang atau sesukaku. Kecuali ada kerjaan pagi-pagi, aku akan patuh pada ritual gilaku itu. Kadang aku tidak tidur karena pekerjaanku ternyata sampai senja. Tapi aku akan membalas dendam tidurku diwaktu yang lain. Kalau sempat.
Ah,...sekarang jam 03:29. Aku bolak balik kurang kerjaan. Habis mbaca kumcer iwan simatupang, malah keterusan mbaca buku filsafat. Tapi tiba-tiba aku stuck. Aku benci mengeja: reinhold niebuhr, Tillich, Husserl... halah gimana tho kok konsonannya banyak banget! Aku pergi keluar mau nonton TV. Acaranya gak ada yang bagus. Balik lagi ke kamar denger musik. Sial, aku tetap muak. Padahal, percayalah para handai taulan, aku adalah orang yang sangat aktif meng up grade musik-musik terkini... aku merasa gak ada yang baru.
Sewaktu aku glebakan di atas kasur, aku memandangi sudut kamarku. Ada India di sana. Sudut yang lain, aha..ada junior!
Tiba-tiba, sangat cepat dunia berubah. Musik yang ku setel jadi begitu melodius. You make my World so colourful, Daniel Sahuleka tidak berbunyi ngakngikngok lagi... Aku jadi bahagia. Tidak ada yang membuatku lebih bahagia kecuali bercerita kepada semua orang bahwa India dan Junior ada di dunia ini. India dan Junior harus tercatat. Juga Bruno di hatiku.
Aku menulis ini dengan terharu, bersemangat dan bahagia.
You make my world so.....
Comments
its really hard to be a doctor friends...
hope Bruno will always happy there, sorry Bruno...