Aku tidak terlalu menyukai masa puberku. Akhir SD aku sudah mulai ngerasain gejalanya, tapi semakin merajalela sewaktu SMP. Semua serba membingungkan. Tubuhku berubah perlahan-lahan, dadaku yang mulai menggembung, menstruasi, kegelisahan-kegelisahan, marah-marah. Aku ngerasa terlalu muda untuk bisa melewatinya. Berat banget. Sekarang aku sudah besar, kataku pada dirisendiri dan kata keluargaku. Dan menjalani opini bagaimana gadis yang sudah besar menjalani hidupnya. Gadis puber ini menafsirkan berlebihan tentang prosesnya. Bingung ada yang namanya perasaan dan belajar bagaimana cara mengaksesnya. Dia membuat puisi. Kadang-kadang ditempel pada majalah dinding sekolahnya. Hai anak muda, andai perasaan itu seperti puisi, magis, liris dan ritmis, dia tidak membereskan apapa pada akhirnya.
Lebaran kemarin aku membereskan koper berisi kertas-kertas. Yang siapapun tidak kuperbolehkan membukanya. kuperbolehkan pun mereka gak ada yang mau. soale ada di gudang. ada beberapa catatan-catatan, juga banyak sekali surat. diantaranya tidak sempat kukirimkan. O my God. Bahkan kepada orang yang tidak kukenal. Dan yang paling banyak kepada mas haris dan mb naim dua kakakku. Mas haris tidak pernah sekalipun membalas surat-suratku karena aku tahu, dia tipikal laki-laki pada umumnya, yang tidak ekspresif soal perasaan. Sebagian besar laki-laki yang kukenal begitu juga. Paling dia akan nelpon kalau suratku udah nyampai, sebenarnya aku jengkel waktu itu kenapa dia gak pernah bales. Sekarang aku tahu, dia gak bisa nulis surat(hihihi miss him so). Tapi akhirnya aku terbiasa mengirim surat dan tidak dibales. Aku tetap menulis dan mengirim surat. Gak peduli. Ternyata aku senang melakukannya. Mba naim sih (dia menjengukku ke jogja lho) selalu membalas suratku dan membuat jengkel juga karena biasanya hanya pendek. Satu halaman. Dia bercerita tentang pesantren dan temen-teman kampusnya.
kabarku alhamdulillah baik, dik. Kamu gimana? Bapak ibu? Sekarang lagi sibuk-sibuknya mba naim kegiatan OPMI. Katanya mba badi mau nikah ya?
Blahblahblah....(mb naim bercerita tentang sekolahnya, kemudian memberi petuah-petuah agar bersabar dan banyak berdoa. halah halah *geleng-geleng*)
Jangan lupa belajar ya dik. Jangan lupa banyak mengaji dan shalat malam.
Salam buat bapak ibu ya dik atik.
Mba naim
Hahahah jadul gak sih gaya begitu? Aku ngakak-ngakak membacanya lagi. Aku melewati puberku dengan banyak sekali surat-surat. Kunooooo. Norakkk juga. Jaman dulu emang banyak yang norak lebay gitu deh. Malu kalau kuceritain di sini.
Aku juga berkorespondensi dengan teman-teman sekolah. Bahkan dengan teman sebangku. Aku sengaja menulis surat dan kumasukkan diam-diam dalam tasnya. Besoknya temanku membalas melakukan hal yang serupa(Dear Arin dan Rias kaifa hal? kangeeeen). Tema-tema surat kami juga jadul lho. Misalnya, kenapa pak Sobikan guru PPKN malahan selalu mengajari kita lagu-lagu berbahasa inggris di kelas(you are my sunshine. My only sunshine. You make me happy when say agree ......nanananana pokoke dia jadi lagu klasikku di kamar mandi). Dan cara menaruh kacamata besar banget itu, nangkring di tengah hidung. Sudah mau jatuh saja kacamatanya. Gak niat make, persis kayak pak Ogah. Gigi pak sobikan besar-besar, salah satu gigi depan atas udah ada yang tanggal. Kalau nyanyi, suaranya jadi membesar berlagak penyanyi opera.
Coba jaman dulu aku kenal cris abimanyu, aku akan teringat dengan cara menyanyi pak sobikan. Hahahaha pak sobikan pak sobikan.
Kami membicarakan hal hal yang muram bagi gadis-gadis muda. keluarga, kematian, tuhan, kesakitan, aturan sekolah, hal-hal yang dilebih-lebihkan dan membingungkan kami. yang menjengkelkanku adalah kenapa aku tidak punya kisah asmara sewaktu SMP. Opini identik puber-puber kan biasanya cinta-cintaan remaja gitu. Aku tidak menyimpan dengan baik topik tentang asmara. Bukan tidak ada tapi aku sama sekali enggak mau mengakuinya. Hah, begitulah aku waktu itu...astaga. Seringkali surat diakhiri motif saling meneguhkan, bahwa kami masih memiliki Tuhan yang maha kuasa. Tuhan pasti punya rencana, kata kami waktu itu, ceileeeh anak SMP sok tua. Begitulah kerjaanku, sok-sokan. (Padahal manusia sendirilah yang gemar menyusahkan diri dengan rencana-rencana. Tuhan mah suka-suka dia, malah jangan-jangan enggak ngerencanain apapa, impulsif dan enggak mikirin perasaan manusia. Dia mahapaksa, kun fayakun.)
Tulisan dalam lembar-lembar kertas surat yang banyak gambarnya. Biru dengan bias-bias gambar doraemon, lope-lope pink, tutti fruti atau anime-anime lucu. Mba naim juga suka membelikanku kertas surat Dagadu dari jogja. Aku senang. Kertas surat hahahaha sampai aku mengoleksinya. Menurutku itu salah satu benda yang keren.
Eh kemarin membaca surat dari Arin, temen sebangkuku. Kerjaan Arin suka banget goda-godain aku dengan pak hisbul. Terbayang-bayang sampe sekarang jadi ketawa ketawa sendiri. Hahaha pak hisbul
Mari kudongengi tentang masa-masa SMPku. Dan kenapa aku berurusan dengan pak hisbul.
Aku SMP di sekolah islam, stanawiyah negeri yaah kira-kira lima kilometer dari rumahku. Kami sering memplesetkan MTS: madrasah tengah sawah. Dalam pengertian harfiah, sekolahku emang di tengah sawah. Jika pagihari atau sorehari kamu berdiri di deket tiang paling belakang pojok barat musolanya, akan terlihat matahari terbenam dan terbit. Dalam bulatan oranye sempurna. (Tentu saja jika tidak mendung.) Luas banget matamu melihat tanah terbentang melewati sawah yang ditanami padi tiap tahun. Ujung tatapan, ada batas antara sawah dan langit seperti lukisan-lukisan massal yang biasa dijual di pinggir malioboro.
Sekolahku menetapkan aturan masuk jam setengah tujuh bagi murid-muridnya. Karena sedang membangun gedung lagi. Siswanya banyak banget, sebagian kelas musti bergantian masuk sore. Anak-anak yang telat akan dihukum mengahapalkan surat-surat pendek al quran dan masuk jam kedua. Apa hasilnya? Aku memilih hukuman ini daripada masuk jam setengah tujuh. Bukan bermaksud berlebihan, olala menghapal surat pendek tentu saja enggak susah bagiku. Kecilll. Hukuman apa itu. Atau kalau lagi bersemangat aku menggunakan trik kuno anak sekolah, menerobos gerbang belakang bersembunyi di musola. Nanti kalau ganti pelajaran aku akan masuk kelas. Berlagak kayak murid yang baru saja ijin ke kamar mandi. Harusnya aku malu ya.
Suatukali kasus telat-telat ini melewati batas. Sehingga aku harus dijemur ke tengah lapangan yang biasa digunakan upacara. Bersama-sama teman lain yang juga mengalami hukuman senasib. Dibiarin begitu aja. Panas-panasan. Menurutku hari itu misterius. Guru-guru yang menghukum kami, tanpa ngasih instruksi harus ngapain. Kami hanya disuruh berdiri di tengah lapangan. Tidak ada instruksi bubar jam berapa. Bel jam kedua telah lewat tidak ada guru yang memerintahkan kami agar bubar. Aku jadi bingung, walah ini maunya apa sih. Hukuman yang aneh. Karena di lapangan sangat panas aku ngiyup di bawah kanopi gedung laboratorium. Duduk di sana sambil kipas-kipas. Peristiwa ini adalah hukuman paling enggak jelas yang kuterima. Bel Jam ketiga lewat, tidak ada guru yang datang. Memberi instruksi apa kek. Nihil. Lahhh..apa maunya nih bapak guru. Aku segera berdiri dari tempat ngiyupku, berjalan menuju kelasku dengan cuek. Masuk kelas. Teman-teman yang lain juga ikut ngebubarin diri dari tengah lapangan yang panas gila itu. Misterius. Guru-guru enggak ada yang peduli. Jangan-jangan mereka sengaja begitu, semacam putus asa menertibkan kami.
Seharusnya kelasku jam pelajaran olahraga, tapi guru olahragaku pak hisbul watoni enggak ada praktik lapangan. Malah ngasih materi-materi olahraga di kelas. Pelajaran olahraga kan ada ujian tulisnya selain ujian praktek untuk mengantisipasi UAS sebentar lagi. Waktu itu pak hisbul ngasih materi tentang cabang-cabang atletik dan derajat gerakan memutar tolak peluru...
Tidak lupa aku mengucapkan salam, bilang maaf karena terlambat masuk kelas. Pak hisbul yang suka iseng itu mempersilahkan aku masuk. Tapi jangan senang dulu, dia tidak membolehkan aku duduk dikursiku. Dia menunjuk kursi pengawas sambil menyuruhku duduk di sana. Di tiap-tiap kelas ada kursi pengawas yang tinggi kalau duduk disana musti lewat tangga yang menempel gitu. Biasanya diletakkan depan kelas di pojokan sebelah kiri dekat pintu.
Maka, duduklah aku di sana. Dengan kaki-kakiku menggantung, kepalaku menjulang, mataku bisa ngeliat segala kelakuan teman-temanku di kelas. Sambil mengeluarkan buku catatan, melihat dengan posisi menyamping menyimak apa yang diterangkan Pak Hisbul di depan kelas. Sesekali mataku dan temen-temenku saling melempar isyarat ejek-ejekan. Pas pak hisbul membelakangi, aku melempar kertas ke temenku. Kebetulan yang kena Si sodiq. Isinya begini:
Hai rakyat jelata, jangan rame di kelas. Dengerin pak hisbul.......
Beberapa saat kemudian, temenku mbales melempar tapi jatuh di bawah kursi. Aku menggunakan trik menjatuhkan pulpen. Maksudnya, sambil mengambil pulpen plus surat lempar itu....
Baiklah, ratu telatan... tulis temenku, si sodiq.
Aku klecam-klecem sambil melempar tatapan pada temenku itu. Tidak lupa mengacungkan kepalan tanda kejengkelan. Batinku: ihhh kurangajar, sialan dia. Teman-temanku terkikik-kikik merasa menang banget. Mereka jadi ribut-ribut sedikit, sampai pak hisbul ketuk-ketuk meja sambil bilang; pssssttttttt!
Sejak saat itu, beberapa temenku sering memanggilku ratu telatan. Uuugh...
Beberapakali insiden terjadi, pulpen atau tasku jatuh, sepatuku copot. Akupun jadi bolak-balik naikturun dari kursi pengawas mengambil dan membenarkannya. Jadi heboh sendiri. Teman-temanku semakin enggak konsen. Kayaknya ada banyolan baru bagi mereka. Pak hisbul terkadang ikut-ikutan tertawa terutama saat sepatu di kakiku yang menggantung itu lepas, copot jatuh ke lantai. Lagi-lagi turun dari kursi pengawas. Membenarkan sepatu dan tali-talinya biar enggak jatuh lagi. Dia mengeluarkan joke-joke tentangku.
”wah ini yang di depan malah praktek olahraga sendiri...”
Entah apa penyebabnya, kemudian pak hisbul punya ide menjadikanku model praktek putaran tolak peluru. Gerakannya aku yang praktekin di depan kelas. Pak hisbul kasih instruksi. Cara memegang pelurunya, menaruh pada sudut benar dari posisi kepala, serta kapan momen yang tepat melesakkan tolakan. Karena peluru yang asli terbuat dari bulatan besi berat jadi akan berbahaya jika dilempar di dalam kelas. Pak hisbul menggunakan kertas yang diuntel-untel. Diremas-remas agar jadi bulatan menyerupai peluru yang asli dari besi.
Yak, prakteklah aku di kelas. Melempar bulatan kertas itu ke arah temen-temenku. Tanpa diduga dan dinyana. Temen-temenku rebutan bola kertas tolak peluruku kayak rebutan buket pengantin barat. Kacaw banget kelasku. Kami semua ketawa-tawa. Pak hisbul juga, sambil ketuk-ketuk meja; berteriak:
”udah-udah. Hayoooo coba diulangi lagi...”
Haduuw. Hari itu jadi bersejarah,
Pertama aku didaulat jadi ratu telatan oleh temen-temen.
Kedua, Arin temen sebangkuku jadi goda-godain aku dengan pak hisbul terus.
Ketiga, sejak hari itu aku sering dijadiin model tolak peluru oleh pak hisbul. Bahkan ketika simulasi besar sebelum ujian praktek olahraga di lapangan. Praktek untuk semua teman-teman di sekolah...
”Panggilan kepada A*****UL I**** dari kelas tiga Be. Untuk maju ke tengah lapangan....”
Suara mix halo halo menggema. Temen-temenku pada ribut padaku; heh panggilan tuh. Howalaaaah, nasib nasib. Ada ada saja pak hisbul nih. Sebel tolak peluru.
Metode ilmu social kualitatif paling klasik adalah jarak antara konsep nilai dan realitas sosial. Das sein dengan Das sollen. Ide awal dari metode ini berusaha meninggalkan gaya kuantitatif yang nomotetic. Atau metode positivis yang mengadopsi ilmu-ilmu alam dalam laboratorium. Tapi sebenarnya masih menggunakan pola metode ilmu alam. Maksudku, hitungan jarak antara das sollen dengan das sein itu mengandaikan pola pikir positivis yang masih menjejak.
Kok aku ngerasa tulisanku gak bisa dipahami to. Gimana ya ngejelasinnya....
Begini, misalnya
aku sebagai peneliti punya konsep struktur sosial yang dikemukakan Veblen mengenai leisure class. Kelas masyarakat ini membangun borjuasi di atas gaya hidup konsumtif dan buang-buang waktu. Ketertarikan mereka pada minat-minat tersier.
Konsep tersebut sebagai teori yang aku lemparkan pada realitas anak-anak muda terdidik perkotaan (ex Djogja) yang menyukai gaya hidup backpacking. Anak-anak muda ini nabung demi perjalanan-perjalanan ke tempat-tempat baru. perjalanan backpacking ke asia tenggara misalnya, menghabiskan duit 2000 dolar Amerika.
Kemudian membangun sebuah rumusan seperti ini; bagaimana realitas anak muda terdidik perkotaan Djogja sebagai leisure class?
Nah itulah, eksplanasi(dalam metode berarti penjelasan sebuah realitas sosial berdasar argumen konseptual. Cara ini merupakan metode pelaporan klasik dalam riset kualitatif ilmu sosial) akan bermain. Aku sebagai peneliti mematok leisure class sebagai kerangka konseptualku. Aku akan bermain-main pada realitas seputar asumsi mengenai leisure class. Sejak awal imajinasi berkembang dalam asumsi tersebut. Semua isu akan secara otomatis berada pada jangkauan konsep-kopsep yang aku bayangkan. Isi risetku bisa ditebak. Penjelasan tentang anak muda perkotaan terdidik dalam kerangka konseptual leissure class itu tadi. Eksekusinya berarti mengafirmasi atau mengkritik konsep yang kubayangkan itu berdasar temuan-temuan realitas sosial yang kuteliti. Bahwasanya ekaplanasi berisi pemaparan jarak antara kerangka konseptual dan realitasnya. Dengan berbagai argumen eksplanatif, maka aku telah melakukan sebuah riset sosial. Thats it.
Pada kenyataannya semua penelitian sosial berkembang berdasar isu yang paling populis. Yang paling seksi bagi si peneliti. Realitas sosial jerjebak dalam bingkai-bingkai eksplanasi begitu. Dan aku tidak berarti naif bahwa masyarakat (aka realitas sosial) memiliki minat terhadap ilmu sosial. Yang ajaib bisa dengan sendirinya menerangkan posisinya dalam struktur sosial. Sedari awal posisiku sebagai peneliti telah membawa sekeranjang tabiat dan hasrat untuk menghakimi. Bukan disengaja, tapi secara instingtif kesadaran analitik telah berkembang penuh muatan.
Pengaturan isu dalam kerangka konsep sebuah penelitian kualitatif kayak yang kuceritakan di atas, jelas-jelas mengadopsi model metode kuantitatif(aka metode ilmu alam). Memasuki wilayah ilmiah berarti sebuah realitas sosial juga terdapat batasan-batasan. Dalam ilmu sosial di sebut teori itu tadi. Seringkali aku sebagai peneliti tidak cukup sabar mengikuti realitas sosial itu pergi dan berkemauan apa. Tapi kuundang mereka dalam keinginan-keinginanku. Biar lebih praktis kan. Aku hanya butuh eksplanasi. Kemudian menaikkan dagu gaya jumawa, merasa membereskan keingintahuanku akan realitas sosial. Padahal tidak ada pengetahuan baru yang benar-benar hadir. Aku hanya sibuuk dengan konsep-konsep(teori) itu tadi. Dasar aku memiliki karakter sok tahu, ditambah metodenya yang mendukung pula. Ealaaaah, udah kadung nggaya je.
*****
Aku membelok arah kembali ke belakang ketika berhadapan dengan definisi model deskripsi dan eksplanasi. Si Geertz yang diklaim weberian itu telah menjadi pengkhianat secara metodologis. Jika orang ato literatur yang kubaca menyatakan dia adalah weberian, aku akan memasang muka bingung. Atau waktu itu si weber juga bingung pas sedang merumuskan model verstehennya. Dia menyatakan model observasi dan eksplanasi dalam metodologi verstehen. dan Geertz? Thick description. Jelas-jelaS dia melarikan diri dari konsep eksplanasi. Di jaman serba bingung ini mari kita mengamankan diri saja. Halah geertz, geertz pake thick thick segala......hayooo apa itu maksudnya. (kalau bukan mengamankan diri.)
Wah dasar PLN, enggak bisa diandelin. Makan gaji buta mereka....sering banget listrik mati di tempatku. Heran. Enggak kompromi waktu. Enggak pagi. Enggak sore. Ato malem. Eh iya, jadi neraka kalau pas malemhari. Ketika semua kehidupanku bergantung pada listrik. aku gak bisa ngapa-ngapain padahal mataku masih belum mengantuk. Bergelap-gelap ditemani selarit cahaya lilin yang ditaro lantai. sambil berbaring sama enggak jelasnya. Besok pagi pagi aku musti menggosok sepah-sepah lilin yang membeku dengan ujung penggaris. Sering sekali begitu....sudah menghambat nambah kerjaanku aja. Gimana nih PLN.
Ayok kita menari-nari. Berputar-putar. Meloncat dan rentangkan tangan. Gak ritmis, gak aerodinamis rapopo. Sing penting, pake soundtrack yang yahud. Sambil bernyanyi-nyanyi. Gakpapa kalo kamu melakukannya di kamarmu tidak akan dimarahin sama ortumu karena terlalu pecicilan. Tidak mengganggu temen kosmu juga kok. Kamu berada di kamarmu. Di pagi hari yang gerah. Dengan segelas kopi susu dalam mug besar. Sambil mengucapkan mantera lupa ingatan. Bim salabim; lupa-lupa-lupa. Tidakkah enak banget bisa lupa? Ahhhh...baguslah, liverpool ditahan imbang sama lyon. Wahh, klop banget. Bikin suasana hati enggak karuan. Klub paporitku memble gitu. Gakpapa. Wes ben. Ayo kita menari saja. Lupakan yang memble-memble…..
1. king of convenience, i’d rather dance than talk with you
2. mars MU. (ladies and gentle man…..Manchester united, all champions again. Glory glory bla bla ….ihhhh ndomble, Gak banget!)
3. sailormoon, opening theme (lalalalala …. Gak ngerti bahasane)
4. mars Liverpool, (ealaaah never walk alone….you’ll walk alone, o yeah!)
5. satria baja hitam, opening theme
lalalalalalalalalalalalalalalalalala……………………………..
I'd rather dance with you
than talk with you,
so why don't we just move into the other room.
There's space for us to shake,
and 'hey, I like this tune'.
Even if I could hear what you said,
I doubt my reply would be interesting
for you to hear.
Because I haven't read a single book all year,
and the only film I saw,
I didn't like it at all.
I'd rather dance than talk with you.
I'd rather dance than talk with you.
I'd rather dance than talk with you.
The music's too loud
and the noise from the crowd
increases the chance of misinterpretation.
So let your hips do the talking.
I'll make you laugh by acting
like the guy who sings,
and you'll make me smile by really
Getting into the swing.
Getting into the swing.
Getting into the swing.
Getting into the swing.
Getting into the swing.
Getting into the swing.
Getting into the swing.
Getting into the swing.
I'd rather dance than talk with you.
I'd rather dance than talk with you.
I'd rather dance than talk with you.
I'd rather dance than talk with you.
I'd rather dance than talk with you.
I'd rather dance than talk with you.
Ayook loncat loncat… sejauh sekarang baru cara ini yang kutahu bisa memanipulasi rasa enggak enak muncul seharihari. Walaupun keluar kamar tetap dengan mata dingin menyimpan senapan, siapapun yang telah dibutakan hargadiri akan menjadi berbahaya. Berubah jadi monster; kejam. Memanipulasi dan menciptakan persona dalam tipuan sehari-hari. Tapi ini kamarmu sendiri, kamu berkuasa dan tidak perlu persona. Dan tunjukkan kontradiksi, meloncatlah, kaki-kaki meninggi hanya untuk tidak menyentuh lantai sementara waktu. Kebohongannya, tidak mungkin kakiku bisa berlama-lama dalam ketinggian. Aku toh akan jatuh juga, tubuhku berasa berhamburan di lantai. Menjadi benda-benda di lantai juga. Buku-buku berserak, selimut terjatuh dari dipan, sajadah membalut mukena, sekotak toples berisi kue kenari dari maluku dan diriku. Telapak kaki akan berdentum dengan lantai, menimbulkan samar tekanan rasa sakit dan oleng sedikit. Haiyaaaa
Tok tok.....
”Yaaaaaa!” Aku mengecilkan suara musikku. Geraaahhhhh....aku buka pintuku.
Mb Ema nongol dari balik pintu, tetangga kamarku yang baru:
”ini oleh-oleh dari semarang....”
Jenang mubarok. Aku meringis senang.
”asiiik. ini buatan kudus mbak.”
”lagi ngapain?” tanyanya
”biasa mbak, hehe ... ayok sini, masuk!” aku duduk manis banget di kursi ketikku..
”gerah, ya?”
”iya. Gilaaaa. Semalem aku tidur di lantai...liat nih gerah.”
”ini lagu apa?”
”Hehehehe ...”
(Satria baja hitammmmmm tang ting tung....)
”mau request soundtrack gak?”
“apa ya, oo Itu aja Nidji, sang mantan... ”
”wah gak apdet, aku belum punya mbak...lagu lainnya. Bagus po nidji yang itu?” *pegang kepala.*
Mbak ema mengangguk kemudian melihat list laguku.
”lama semua lagunya...” katanya. tapi dia memasukkan lagunya Ran, jadi gila. Eh itu lagu pemberian Ge i.....weeeelah, malah jadi gila.
”cieeeileee, sang mantaaaan...lagi inget mantan ya, mbak. Hihihihihi...”
Mbak ema hanya senyamsenyum.
”mbak ema punya lagunya? Ayok, kita putar di sini. Aku mau denger...”
”iya deh, sebentar mbak ambil flashdisk. Kemarin baru aja donlod..” katanya sambil ngeloyor ke balik pintu.
Wahhh sang mantan.....
Weber mematok verstehen sebagai metodologi dalam ilmu sosial. Setidaknya dia yang paling atraktif dan ikonik menulis tentang metodologi interpretif. Sedangkan, minatku terhadap metodologi bermula dari kecintaanku pada sastra.
Sebelumnya, aku jadi terpelintir dengan berbagai tawaran ilmu pengetahuan. Kemungkinan-kemungkinan yang disediakan masuk dalam banget. Termasuk kemungkinanku untuk memperoleh pekerjaan. Aku tidak menyangka, sodara-sodara. Ilmu dan pekerjaanku bisa sekarib ini. Aku membayangkan pendidikan skolastik, seperti romantisme bahwa ilmu pengetahuan akan memanusiakan manusia. Membedakan ketrampilan dan pendidikan sebagai jalan hidup. Pendidikan dan pekerjaan. Tapi jalan hidup membelokkan ke arah yang sebaliknya. Pekerjaan dan pendidikanku begitu dekat saling menimpali. Keduanya membuatku berpikir ulang tentang jalan hidup. Hingga akhirnya, aku merasa senang berada di sana. Yang paling penting persoalan kepraktisan, aku musti cepet lulus. Hahahaha ...woey, yang kukerjakan ini adalah tema ke empat lho. Malu-maluin. Dan aku aaah, no point to the return. Inilah realita teman-teman.
Kembali ke metodologi.
Aku ini orang yang dengki setengah mati dengan seorang peneliti macam Geertz. Dia dan istrinya pergi ke Indonesia satu dekade untuk meneliti. Jangkauan yang dia deskripsikan beraneka rupa setidaknya bagi khasanah perkembangan ilmu sosial di Indonesia. Involusi pertanian; kajian ekonomi pertanian di Indonesia yang membawanya ke dalam isu-isu agraria dan ekonomi. Penjaja dan Raja(Peddlers and princes) dia melakukan riset di Mojokuto(Pare, Kediri) dan Tabanan Bali. Tentang perubahan sosial di dua kota- tarik ulur antara penguasa dan pengusaha. Menjadi tolok ukur modernisasi ekonomi di dunia ketiga. Religion of Java, yang paling tenar di indonesia, memetakan struktur masyarakat jawa lewat sosiologi agama. The social History of an Indonesian Town yang menjadi patokan kajian perkotaan terutama konsepnya, tentang kota utama dan kota satelit. Sabung ayam di Bali, yang membuatnya tenar di seantero dunia. Pertama, karena analisis kebudayaannya yang dianggap baru diantara para peneliti. Kedua, eksotika Bali siapa yang mau menolak sodara-sodara.
Belum lagi riset-riset istrinya mengenai sistem kekerabatan dan keluarga. Juga riset lapangan yang diadakan di Maroko.
Nah, risetku justru ke karya-karya abstraksinya. Karya yang dia tulis selama dua dekade, sepulangnya penelitian lapangan, mengenai metodologi. Interpretation of Cultures, Local Knowledge, Available Light, Works and Lifes and After the Fact. Apa hubungannya dengan Weber? Banyak literatur bilang kalau Geertz adalah weberian. Terutama metode interpretasi yang digunakannya. Walaupun menciptakan polemik, metode ini menjadi pembaharu dalam ilmu sosial. Soalnya mengandaikan tarik ulur antara subyek dan obyek penelitian. Nah fenomenologi menjelaskan dengan ciamik dalam konstruksi sosial. Bagaimana tarik ulur subyek dan obyek dalam realitas sosial. Dan jejak rekam hubungan keduanya, aku temukan di berbagai karya metodologi Geertz. Dan parahnya sebagai mahasiswa sosiologi aku tidak banyak diperkenalkan etnografi. Malah metode PAR ala Chambers itu lho. Bedanya? Sik sik, aku jadi pusing nih.
Geertz dengan hati-hati dan pintar menuliskannya dalam works and lifes(diterjemahkan jadi hayat dan karya oleh landung, terbit di LKIS). Di sana dia menulis tentang tarik ulur fakta dan fiksi dalam ilmu pengetahuan. Terutama dalam sebuah penulisan antropologis. Ini yang aku bilang kenapa aku tertarik dengan isu metodologi karena kedekatanku dengan sastra. Metodologi adalah horison yang membatasi atau memperluas imajinasi kita tentang ilmu. (Kapan kapan ya aku cerita tentang metodologi dan pengalamanku mempraktekannya dalam pekerjaan) Kata kleden, metodologi dalam ilmu pengetahuan cenderung mendisiplinkan karena mengancam spontanitas daya cipta. Mau gak mau kan, ilmu harus bertemu dengan konteks agar bisa kuat justifikasinya. Sedangkan sikap kreatif dalam sastra cenderung membebaskan, menemukan dan menciptakan.
Aku masih inget perdebatanku dengan pak heru pada pertemuan pertama. Dia mengritik atas kecenderunganku untuk mendekatkan dua isu fenomenologi dan metodologi Geertz. Padahal keduanya bisa jadi berkembang dalam tradisi yang berlainan. Pertanyaan beliau yang saya catat, apa benar metodologi geertz terpengaruh oleh fenomenologi? Karena Geertz lahir dari tradisi etnografi. Bukan fenomenologi.
Aku jadi sedikit ragu.
Jawabanku masih kucatat karena digunakan sebagai berita acara; Saya bertahan dengan halaman 360 interpretation of Cultures, kajian tentang fenomenologi kebudayaan. Pernyataan ini semakin gamblang terutama atas analisisnya mengenai predecessors, contemporaries, consociates and successors. Fenomenologi pertama-tama tidak melulu dilihat sebagai bangunan metodologi tapi juga epistemologi. Saya melihat dinamika dalam penciptaan realitas. Tradisi keilmuan-sosiologi dan antropologi- mengembangkan dalam operasional metode yang khas. Berpijak dari salah satu chapter pada interpretation of culture atas keraguan Geertz terhadap alfred schutz. Dan local knowledge, Geertz banyak membahas tentang kesadaran umum, common sense. Saya melihat persinggungan epistemologis antara fenomenologi dan teori tindakan, walaupun dalam susunan metodologi Geertz beberapa kemungkinan bisa saja terjadi. Itu bagian yang akan saya teliti.
Pak Heru mengernyit. Aku gentar seperti orang demam panggung. Aku inget tulisan Kleden dalam pengantar after the fact yang terus menerus menulis tentang etnografi dalam metodologi Geertz. Bagaimana dia terpengaruh besar dari karya malinowski, strauss dan ruth benedict dll. Diam-diam aku menjadi tidak percaya diri dengan pendapatku. Hingga akhirnya, Pak Heru menyarankanku untuk ketemu sama Pak heddy ahimsa. Kami bersalaman dan berdamai. Aku lega sekaligus gelisah.
Berbeda dengan pak Nyoto. Pengujiku yang lain. Dia Tanya; Kapan fenomenologi dekat dan kapan berjauhan dengan Geertz?
Tanggapanku di berita acara; geertz cenderung jadi Parsonian ketika meneliti religion of Java dan fenomenologis dalam sabung ayam di Bali. Tapi saya membedakan karya Geertz jadi dua bagian. Pertama karya tentang laporan penelitian. Dan kedua, tulisan mengenai metodologi. Riset saya ini mengkaji pada bagian laporan metodologi Geertz. Dalam sudut pandang Pak Nyoto, kajian utama lebih akan berkembang pada laporan penelitian lapangannya. Saran pak Nyoto sangat menggelisahkan saya, isunya menarik tapi justru bertolak belakang dengan kerangka konsep saya-fenomenologi, kebudayaan, metodologi. Konsep saya, metodologi Geertz dilihat sebagai jendela untuk menjelaskan dinamika fenomenologi sebagai kerangka pemikiran/teori dalam isu-isu metodologi.
Setelah diskusi dia memberiku beberapa E book. Kemudian, cenderung mengarahkanku ke kajian penelitian lapangan Geertz. Membandingkan dengan riset pak Sartono. Haiyaaaa, aku jelas kepontal-pontal. Susah payah memasuki track baru. Konon, Desertasi beliau tentang Geertz juga. Tapi aku gak tanya lebih detail. Wah bapaknya ini malah mengubah haluan rumusan masalahku. Aku tidak manut. Aku hanya diam aja kalau sama bapak ini tapi justru resisten besar-besaran. Malah bingung. Dan marah pada diri sendiri.
Sampai kamar aku melempar tas sembarangan dan menjatuhkan diri di kasur. Pengen nangis. Howalaaah. Kesal, kenapa aku harus punya pendapat. Menyusahkan. Menyusahkan. Aku harus bertahan lebih keras. Ya Allah ya Rabbi.
Karena resisten dari pak Nyoto, aku malah ketemu dengan kecurigaan. Sepertinya laporan penelitian dan essay metodologi geertz tidak pada sistematika yang kontinuum. Misalnya dalam kasus religion of java, Geertz tidak terlihat menggunakan analisis yang sejajar dengan metodologi yang di interpretation of cultures. Nah lo
Semua itu terjadi satu setengah bulan yang lalu. Terpotong mudik lebaran. Aku meng-Add pak Heddy lewat saran temenku, lukman sholihin. Katanya beliau bisa dihubungi lewat facebook. Sampai hampir tiga minggu aku enggak di Approve jadi teman. Huwaaa. Sampai akhirnya aku kirim message(bodoh kenapa gak dari awal aku punya ide ini?). aku bercerita tentang masalah dan keterbatasanku atas pengetahuan mengenai etnografi. Juga etnosains. Tiga hari kemudian Pak Heddy bales. Aku ngenet di kamar Ge i, teriak-teriak kayak dapet undian rumah. Sampai aku lebay terlalu seneng. Dan yang menggembirakanku balesannya bilang begini;
Saya bisa mengerti kebingungan Izzah. Karena pada dasarnya Geertz itu menggunakan fenomenologi hermeneutik. Blabla bla......
Aku akan ketemu pak Heddy, berdebar-debar. Mental fans nih. Mental inlander. Gak percaya diri. Whatever, lihat dong temen-temen, pak heddy bilang; Fenomenologi hermeneutik. Yay! Pak Heruuu tunggu penjelasanku ya! Dan Pak Nyoto, baiklah nanti aku akan jelaskan lebih detail maksudnya. Asal dibaca lho.
Aku diajakin ngopi sama temen-temen. Rasanya lama gak bareng mereka. Ketemu dengan temen-temen ini pas aku ikut ukm kampus. Mereka semua cowok. Bersama mereka sering membuatku menjadi pribadi yang berbeda. Beda banget malah. Kayak de javu. Mirip banget pas aku SD. Waktu itu, temen satu kelompokku juga cowok semua. Naluri kompetisi dalam permainan secara otomatis menguat. (Jangan sekali-kali menantangku dalam permainan, aku susah sekali berhenti kalau sudah ditantang.) Aku seperti menjalani permainan dengan mereka. Kayaknya terpengaruh ingatan masa SD-ku tentang cowok-cowok.
Aku kehilangan identitas jenderku begitu saja. Rasanya berasa cowok juga. Kami bisa membicarakan macem-macem, berkeliaran kemana-mana. Bahkan ngebicarain banyak hal seolah-olah aku bukan cewek. Heh cewek itu seksi ya..weeelah..(terkadang mereka porno juga. Yah biasalah cowok getho hakhakhakhak...*ketawa ganjil*) Walaupun banyak relasi yang telah berubah, kami bertahan lho sahabatan. Kayaknya akan jadi klasik juga. Kami merencanakan reuni besar tahun 2012. Wah gak sabar...miss u all guys.
Awal-awal tahun di Jogja, aku sering bersama-sama mereka. Susah senang dan berantem-berantem segala. Yaah setidaknya merasa bareng-bareng punya opini hiperbolis tentang perjuangan. Ya ampun, kami ini kan pemuda-pemudi penuh cita-cita dan bersemangat. Seneng deh kalo inget. Kami ketemu malem-malem dengan judul rapat. Seriuuuuuuus debat kusir demi sebuah tulisan yang enggak banget kalau kubaca sekarang ini. Hahahaha kami suka ngetawain dirisendiri. Bernostalgia hanya demi olok-olok paling lucu dan ironis. Aku berhutang budi dan belajar (ceileh. Ge er mereka ntar) banyak pada mereka tentang artinya integritas. Aku bertahan bersama mereka menghidupi organisasi. Selama tiga tahun awal kuliah. Dan temen-temen begini tidak akan kudapatkan kalau gak pas kuliah. Kami masih muda dan gila persahabatan. Sekarang, masing-masing mereka telah berkembang karakternya.
Rencananya sih mau ngopi malem kemarin. Udah sms-an soal penentuan hari. Ih pas eksekusinya, masak aku mau dijemput jam setengah sepuluhan malem. Pasti temen-temenku masih berpikir aku ini temennya di ukm itu dulu. Ngopi tengah malem pulang hampir subuh. Astaga. Aku kan udah gak wonder woman kayak dulu. Aku jadi bete. Emang, mereka kebiasaan deh. Aku pamitan gak ikut aja.
Eh ternyata, mereka mengganti waktunya malem tadi. Asal aku ikut, katanya. Wedewww...jadi gimana gitu. Yoweslah, sing penting jangan terlalu larut ya.
Wuoke, janjinya..
Aku ngeliatin muka-muka mereka, cengengesan. Lah saiki lebih bersih. Waaah wes podo bagus-bagus. Mereka ganti cengengesan. Dan makin menggendut hehehe asap asap berhamburan. Seperti biasa, seumur hidupku jadi perokok pasif. Aku memang dalam lingkungan perokok, pergaulan maupun keluarga. Kami ngebicarain kabar masing-masing. Hingga larut juga akhirnya. Emang gak bisa ditolak. Hwaaah. Kami akan ketemu lagi merencanakan nonton Jogjazz di Gabusan. Asikkkkk.
Awalnya subuh kemarin gloomy di depan tv tapi kuping disumbat earphone ajeb-ajeb KOC dan sade. Pekerjaan indera serba gak sinkron. Mata ngeliat apa, kuping denger apa. Aku enggak lari pagi. Seharian membayangkan permen karet. Buble gum. Bulet-bulet warna-warni. Sering kumakan sembunyi-sembunyi pas kecil. Soale dimarahin ibu kalau ketahuan. warnanya yang menarik, konon dari pewarna berbahaya. Juga sepahnya yang sering nempel di rok seragam atau ujung sepatu. Dimakan dibelakang sekolah dengan teman-teman. Awalnya dia punya warna-warna cerah berasa manis, ditelan dan dikunyah. Lama kelamaan dia berubah jadi putih liat bersirobok dengan gigi-gigi geraham. Semakin dikunyah, rasa manisnya menyergap lidah, samar-samar. Hingga lidah mendorong dan menyembulkannya. Meniup dengan sekali bulatan. Menjadi balon-balon yang keluar dari mulut. Kegirangan. Berasa ajaib. Aku akan semakin hepi kalau bulatan itu membesar. Seringkali kehilangan kontrol, aku meniupnya terus menerus hingga besar dan tipis balon putih itu. Plup. Meletus deh balonnya. Lengket-lengket menjadi bulatan disekitar mulut, pipi, hidung, hingga ujung-ujung rambut mata. Wajahku seperti badut dan diketawain temen-temen. Aku juga tertawa berasa paling konyol diantara mereka…bangga. Kemudian perang permen karet dimulai, kami saling menabrak biar balon-balon yang lain meletus juga. Kami berlarian saling kejar. Hayo siapa yang mau kuletuskan balonnya…hayooo..aku mengejar teman-temanku dan sengaja tidak segera membersihkan sepah karet itu dari mukaku. Salah satu diantara kami berteriak sebagai bunyi genderang perang: Lariiiiiiiii…monster permen karet datang!!! Kami berlari-lari. Saling menebarkan ekspresi ketakutan tapi kegirangan. Berlarian. Debu-debu polusi berkelojatan diantara hentakan liar sepatu…uffff, kotor dan basah keringatan seragam-seragam kami…
Aku mau permen karet.
Trara!
Medley dimulai jam setengah delapan pagi. Kedatangan sohib-sohibku jadi soundtrack klasik sepanjang hayat: Bunga krisan kuning dalam botol parfum 50 mili, memberi efek hingar bingar menguar ke seluruh kamar(yay! thx). Asem mangga muda, rujak uleg keliling. Manis coklat cadbury silinder. Juga obrolan-obrolan spesial. Dengan bermacam-macam kesegaran dan keintiman orisinal. Kucing terjebak di gang kos-kosan, membobol folder yang terkunci password, wisuda mba wahyu dan ’rizki hanggono’ (hihihihi), pupuk dari kotoran kelelawar goa-goa kapur di Pati(Rin, pokoke kapan-kapan aku meluuuu. Ya ampun, geleng-geleng gak bisa ngomong a.k.a heibat bgt), matakuliah keguruan UNY untuk pengajar SD, H**** dalam K*******, epos-epos dalam dongeng bombastis, Sherina di amplas, lagu-lagu misterius KD, gaya ndomble suu kyi dalam iklan Kenzo dan dainer des(aku menuruti saran untuk monyong-monyong di depan cermin antimalu. Pokoknya kalo ngomong desh itu musti kotak sekotak-kotaknya^=^. Kayak pas blajar ngaji Qur’an pertama kali, a’udzubillahiminasyaitonirrajiim. Musti kotak juga mulutnya. Hahahaha...ampuun! sendiko dawuh. Enjih mangke kulo badhe sinau babagan conversation meniko. Bencana sekaligus rejeki besar, punya sohib pintar kayak kamu Nad.) Mengeluh sampe kehabisan peluh. Ketawa-ketawa sampe gila. Terimakasih ya, sohib-sohibku. Aku benar-benar menyukainya. Love this. Love this. Alhamdulillah.
Hari ini bertemu seseorang di kampus. Janjian jam dua siang. selesai mandi jam dua kurang seperempat. Dapet angkotnya jam dua lebih lima menit. Bus DAMRI putih bulukan jalur 15, tempat duduknya keras. nyampe kampus jam dua seperempat. Berlari-lari tidak kenal malu dari ujung fakultas hukum itu.
”halooo assalamualaikum, maaf terlambat.”
Sapaku sambil ngos-ngosan memasuki ruangan. Mereka menengok ke arahku.
”ya kesini. Aku sudah menunggumu.” wajahnya sumringah, menyembulkan senyum. Otot-ototku melonggar.
”waaa aku tadi berlari-lari lho. Mana di jalanan macet ada banyak orang berjenggot dan berjilbab gede demo memperingati sumpah pemuda. Sambil bawa poster tegakkan syariat islam sepanjang jalan menuju bunderan....” masih ngos-ngosan.
”ah kamu ini kecentilan. nih makan kue dulu.”
Dia menyodoriku kue yangko merah.
”makasih”
Natural attitude dalam konsep fenomenologi disebut sebagai kenyamanan ontology. Karena pada tahapan ini, individu tidak lagi mempertanyakan lagi kesadaran yang dijalaninya setiap hari. Dalam konsep strukturasi yang dipopulerkan Giddens, konsep ini sering disebutnya sebagai kesadaran praktis. Mengacu pada tiga bentuk kognisi dalam teori strukturasi, motivasi tak sadar, kesadaran praktis kemudian kesadaran diskursif. Natural attitude ini yang sering menghubungkan fenomenologi dalam etnometodologi Granfikel selain juga mempengaruhi dalam konsep kebudayaan Geertz mengenai commonsense. Commonsense sebagai sistem budaya.
”Zah kenapa kamu pakai jilbab?”
”Karena semua anak perempuan dikeluargaku pakai jilbab.”
Dengan jawabvan seperti ini kukira tidak akan menimbulkan kericuhan berarti bagi si penanya. Dan bagiku sebagai orang yang melakukan praktik sosial. Aku tidak pernah menggelisahkan kehadiran jilbabku sebagai sesuatu yang aneh karena kehadirannya menjadi semacam taken for granted. Given. Jilbab sudah menjadi keumuman di keluarga sehingga saya menggunakan kain ini bukan sesuatu yang aneh. Sudah menjadi commonsense bagiku. Karena pengetahuan yang kudapatkan dari bayi. Anak perempuan pakai jilbab.
”zah kenapa anak perempuan di keluargamu memakai jilbab semua?”
Jika kamu sudah menanyakan jilbab dan latar belakang biografisku, maka di sana kamu juga bisa mengandaikan berbagai kasus. Spivak yang mengaku kosmopolit ternyata dia selalu memakai kain sari ketika jamuan resminya di berbagai negara. Bagiku jilbab dan sekarang kupake itu telah lama menjadi kesadaran praktis. Aku tidak aneh lagi dengan kehadiran jilbab karena memang begitu adanya ajaran keluarga. Dia bisa menjelaskan sebuah konteks historis dari realitas sosial, tipe-tipe nilai dan moral dan berbagai prakteknya. Schutz menyebutnya tipifikasi. Berarti jilbab akan cocok dan umum jika dipakai oleh seorang anak perempuan yang tinggal di keluarga yang semua anak perempuannya berjilbab. Iya, iya. Tapi kenapa anak perempuan di keluargaku pakai jilbab?
”keluarga konservatif ortodoks dalam beragama. taat aturan ”
Nah, begitu pola pikir fenomenologi bekerja. Jika kemudian diteruskan dengan pertanyaan usil minta ampun begini;
”apa sih ajaran agamamu yang menyebabkan anak perempuan di keluargamu memakai jilbab?”
Aku akan sedikit menurunkan bahu, menarik nafas panjang. Ini dia persoalan kesadaran*sambil menjentikkan jari-jari*. Sebenarnya, saya bisa aja jawab dengan sebuah ayat; ’alaihinna jalabibihinna ila akhirihi. Tapi berkembangnya stok pengetahuan membuatku punya pendapat khusus tentang sebuah dalil tertentu, termasuk polemik dikalangan ahli agama mengenai jilbab. Dengan pengetahuan itu saya jadi memiliki penglihatan lain terhadap sebuah realitas sosial. Terutama mengenai anak perempuan dan jilbabnya. Pertanyaan ini akan mengandaikan ketidak nyamanan ontologis. Saya akan gelisah mempertanyakan realitas jilbab dalam diriku. Pertanyaan mengenai keberadaan sebuah realitas tertentu (dalam kasusku; jilbab), meciptakan kesadaran baru dalam diriku. Kesadaran diskursif. Karena saya memasuki wilayah diskursif sebuah realitas sosial. Wilayah yang paling sensitif yang bikin semua orang plirak-plirik sensi.
dear wira,
kita sudah memintanya bertahan. menyiapkan darah O paling baik di jogja. tapi tuhan menginginkannya pergi. anyway, dari jam dua hingga subuh ini meteor yang dijanjikan akan turun itu tidak keliatan. aku berungkali ke lantai dua dekat jemuran. hanya ada mendung berwarna oranye, gerimis tipis-tipis mengiris udara pagi.
aku seperti udara pagi ini.
membayangkanmu menungguinya saat kremasi.
Aku sedang menulis bagian ini. Atensiku terkesan berlebihan ya. Kebuntuan yang kuciptakan sendiri sama saat aku ngejelasin tipifikasi dan reifikasi(kapan-kapan aku cerita yang ini). Bedanya kalo waktu itu bingung, mulainya darimana dan dijelasin dengan kata-kata apa. Bukan aku aja yang bingung, deskripsinya pun bingung minta ampun. Walopun sosiologi dan filsafat memiliki hubungan laten, keduanya terkadang susah diikuti, didekatkan. Kayak memiliki jarak bertahun-tahun cahaya yang bikin aku jadi botak ubanan untuk mendekatkan mereka, atau aku menganggapnya sebagai bagian dari art of thinking. Resikonya sih spekulasi yang terlampau liar, aku akan lebih bertanggungjawab kalau sudah ngomongin spekulasi dalam skripsi.
Tapi terkadang mereka-sosiologi dan filsafat- terlampau dekat
kayak kembar identik. Keduanya toh dibesarkan dalam tradisi pemikiran yang
sama. Termasuk konsep-konsep mengenai realitas sosial. Intensional dalam
terjemahan, intentional. Intensional dalam narasi Husserl dimaknai sebagai kesadaran
yang selalu mengarah pada dunia kehidupan(lebenswelt). Dunia kehidupan berada
dalam jangkauan kesadaran yang dimiliki bersama dan bersifat sosial,
intersubjektif. Pengalaman pribadi dalam ”dunia” tersebut menjadi pengalaman
bersama. Anda atau siapa aja bisa mengalami pengalaman yang serupa. Gula yang
berasa manis, jogjakarta banyak sepeda, atau alasan anna karenina meninggalkan
karenin ke pelukan vronskii. Bahwasanya realitas sosial terbentuk atas kesadaran
dalam tindakan yang di sengaja(the act of intentionality). Pada titik ini, dia
ketemu dengan Weber atas konsep rasionalitas dalam teori tindakan, mengenai
bagaimana terbentuknya pengetahuan dan terjadinya tindakan sosial.
Begini, husserl maupun weber merupakan dua orang yang romantis tentang kesadaran manusia. Keduanya berpikir kekuatan subyek menjadi penentu utama dalam realitas sosial. Walo begitu, bukan berarti tidak memikirkan resiko relativisme dalam labirin kesadaran tanpa rumah. Husserl mengajukan konsep fenomenologi transendental(terutama konsepnya mengenai natural attitude), weber dengan penafsiran berdasar kondisi sosiologikal ala historisisme. Keduanya tidak sependapat dalam mengajukan solusi, tetapi setidaknya teori ini kelihatan optimum. Sampai disini seolah-olah semua bisa terjawab, semacam menyenangkan diri sendiri.
Padahal keduanya mengandung penjelasan
yang rumit kalau tidak boleh disebut ngomyang. Proses mempertanyakan
yang selanjutnya menginterpretasi tidak dalam pengertian biner filsafat modern
yang menggunakan pengandaian subyek-obyek. Subyek-obyek menjadi entitas yang
tidak bisa terpisah. Halnya individual dan sosial. Dalam metodologi, konsep ini
menciptakan kontradiksi. Piye jal? Sopo sing wes pernah riset dengan metodologi
ala mereka. Enggak ada. Nol prutul. Filsafat filsafat, kakean ngomong kurang
aksi. Dan
harus kuberi tahu pada akhirnya aku juga tahu kalau Husserl itu bertahan,
fenomenologi adalah ’science of science’ since it alone investigates that
which all other sciences simply take for granted (or ignore), the very essence
of their own objects. Ealaaaah, segitu tok kebutuhannya.
Yang terjadi dan tidak bisa dipungkiri dalam Husserl dan weber, beberapa penjelasan menunjukkan subjek begitu dominan dan berusaha menguasai objek melalui unsur manipulatif. Ketika unsur-unsur subjektivitas begitu dominan dalam proses interpretasi, maka yang terjadi bukanlah pengungkapan realitas. Realitas sejak Descartes selalu mengarah pada kekuatan subyek, cogito ergo sum. Dan pengetahuan absolut yang dicita-citakan Husserl itu hanya secercah harapan di balik rembulan kesiangan. Seperti angan-angan kita tentang Tuhan. Ketika sudah mengimani keberadaannya, paradoks yang menykitkan adalah kegemaran untuk mencari bukti-bukti keberadaanya. Meminta bukti sepanjang umur bumi.
Saat pertama mengenal kata sosial dan
budaya, aku tidak melihat kesulitan berarti dalam definisinya. Karena di sekolah aku dibiasakan memilah-milah dan
menyebutkan. Hingga aku musti menjelaskan keduanya dalam eksplanasi. Seperti
saat semester awal ada ilmu sosial dasar buku munandar sulaiman ngomongin
lembaga dan pranata sosial dan ilmu budaya dasar karangan M. Habib mustopo
berisi seni, filsafat dan manusia. Aku sih pengen pengen jadi anak manis,
dengan bilang begini; pengertian keduanya-sosial dan budaya- memiliki keterkaitan yang saling
menggenapi, agar definisi masyarakat yang menjadi studi kajian ilmu sosial
terjelaskan. Tapi hatiku bilang, ini paradoks. Sosial budaya sosial budaya
sosial budaya...hayo hayo
Ternyata aku malah melingkar dalam khasanah politik kampus yang mempartisi keilmuan. Seperti kesadaran yang terbangun dalam dua tradisi ilmu sosial di kampusku, sosiologi dan antropologi. Walaupun keduanya memperjuangkan tujuan yang sama-ilmu sosial humaniora- tapi beda tradisinya. Dan kamu tahu siapa yang menciptakan tradisi? yang banyak proyek mengikuti gaya pesanan pemberi donor penelitian. Yang tidak banyak proyek dikondisikan kayak pertapa, mengkaji hal-hal unik eksotis yang jauh bagi kehidupan sehari-hari, suku-suku, rumah adat dan pohon keluarga. Mereka masih keukeuh merasa berbeda dalam kajian hubungan sosial atau makna-makna.
Hingga Geertz yang bandel itu, membawa isu
agama dan ekonomi politik dalam laporannya. Membuat opini blurred. Mereka yang
klaim wilayah jadi bingung. Gontok-gontokan mengenai metodologi. Kemudian
mereka manyun dongkol setengah mati, telah hampir 30 tahun narasi kita dibentuk
oleh orang-orang yang beda kulturnya. Kita mengutip dan membeo dalam deskripsi
mereka. Padahal bagi Geertz (mungkin) jawa bagian dari eksotika dunia ketiga
dan tempat tamasya bagi keheranan rasionalitas orang amerika. Asem.
Geertz sih cenderung mengamankan diri
dengan berbagai kepingan pemikiran(cenderung eklektik). Dia sepertinya sudah
tahu kapan saja bisa tergelincir. Walaupun menganggap fenomenologi Schutz
ambisius, mengawinkan Husserl dan weber toh dia melarikan diri dari kubangan
relativisme weber ke deskripsi penafsiran (mendalam?) yang melodius itu. Cara menulisnya lebih mirip kritik sastra daripada
laporan mengenai masyarakat. Dia bersembunyi dalam tradisi etnografi, entah
bagaimana anda punya gaya dia kebal kritik. Bisa lentur banget karena sifatnya
yang deskripsi. Baru duapuluh tujuh tahun kemudian dari peluncuran religion of java,
orang Indonesia lewat Sartono kartodirjo sadar kalau Variasi yang dikemukakan Geertz terbantahkan. Dan Ignas Kleden tiga puluh lima tahun kemudian dengan the involution of the involution. wewww kita ini yaaaa...
Kebohongan dan jebakan paling nyata bagiku adalah saat aku mengalami kebuntuan karena semakin berkembangnya pengetahuan. Kupikir dengan bertambahnya referensi semakin kaya pula jalanku membuka argumen. Aku memble uring-uringan sendiri dalam carut marut pengetahuan yang minta didisiplinkan. Mereka bertautan menyembul tidak beraturan. Kalo ditulis semua bisa kayak tempat sampah paling ironis di dunia akademis. Kemudian agak mutung mendisiplinkan pengetahuan dengan cara yang lebih mirip bisikan formalistik daripada spirit sistematik. Aku hanya bisa bernafas panjang mataku memerah, kutemui lantai-lantai harus kusapu beberapa jam sekali. Rambut-rambut di lantai sebuah bukti fisiologis yang siapa saja tidak bisa membantah. Ya tuhan, apa-apaan ini.